22 Desember 2015

Halo Mama, apa kabarmu di pulau seberang sana? Kakak sudah menampung rindu yang berlebih.  Mama juga pasti tahu itu. Iya, kan? Kakak rindu dengan cara Mama memanggil Kakak dengan sebutan seperti yang sekarang Kakak gunakan. Iya, ‘Kakak’. Sesekali Mama juga memanggil Kakak hanya dengan sebutan ‘Nurul’ ditambah penekanan nada. Itupun hanya ketika Mama sedikit kesal dengan Kakak. Iya, kan? Hahaha.

   

Ma, tahu tidak? Terkadang Kakak senyum-senyum sendiri, bahkan nangis tiba-tiba kalau Kakak mencoba untuk menyusun kembali satu persatu memori ingatan Kakak. Apa yang terjadi dan apa yang Kakak lakukan bersama Mama dari dulu hingga sekarang. Sekarang Kakak coba menyusun satu persatu ya, Ma.

    

Kakak mencoba mengingat apa yang terjadi saat Kakak berumur 4 tahun, Ma. Saat Mama mulai membiarkan Kakak berinteraksi dengan manusia seumuran Kakak. Tepatnya di Taman Kanak-Kanak yang menjadi tempat sekolah formal pertama Kakak. 

Ada memori yang paling Kakak ingat saat itu. Kakak melihat raut wajah Mama yang sedih, khawatir, sekaligus marah ketika sepulang dari sekolah, telinga Kakak meneteskan darah yang sangat banyak karena ulah teman sekelas Kakak yang sepertinya hanya iseng belaka menggunting daun telinga Kakak. Ah, entahlah itu layak disebut iseng atau apa. Mama tahu? Saat itu Kakak nangis tidak hanya karena sakit, tapi karena Mama juga sedih dan panik.

Oh iya, Ma. Ada satu lagi yang Kakak ingat. Dulu saat Kakak merengek meminta untuk menggunakan seragam merah putih siswa Sekolah Dasar, Mama dengan berbagai cara mencarikan sekolah yang mau menerima anak berusia satu tahun lebih muda daripada usia anak 1 SD yang sesungguhnya. Susah ya, Ma? Maaf ya, Ma. Kakak umur 5 tahun waktu itu sudah tidak sabar mau seperti kakak sepupu yang lain. Terimakasih sudah menjadikan Kakak layaknya anak yang pernah ikut kelas akselerasi, Ma! Hihi.

  

Kakak kagum dengan sosok Mama yang kuat, meskipun agak sedikit manja. Wajar, Ma. Wanita memang pada dasarnya memiliki sifat manja. Sekuat apapun dia.

Sosok kuat Mama terlihat dibeberapa moment. Kakak sangat ingat dulu Mama pernah memaksakan diri menjemput Kakak di sekolah, padahal Kakak tahu Mama sedang demam tinggi. Saat itu memang sudah larut malam dan Kakak masih di sekolah. Bingung tidak ada yang menjemput. Ternyata karena sedikit kesalahan komunikasi Mama dan orang yang diamanahkan untuk menjemput, Mama yang saat itu meskipun sakit, memaksakan diri bangun untuk menjemput Kakak.

Terlihat pula sosok kuat Mama saat Ayah beranjak duluan ke pulau Jawa, meninggalkan Kakak, Mama, dan Adik untuk sementara di Makassar karena melanjutkan pekerjaan Ayah di sana. Waktu itu sepertinya Ayah dan Mama berembuk untuk mengambil keputusan seperti itu, menunggu Kakak dan Adik menyelesaikan sekolah yang sangat tanggung untuk ditinggalkan. Saat itu Kakak kelas 5 SD dan Adik kelas 2 SD kan, Ma?

Saat itu Kakak melihat Mama berusaha bagaimana caranya agar Kakak dan Adik bisa pergi sekolah dan pulang sekolah dengan aman, bagaimana Kakak pergi dan pulang kursus yang sangat banyak itu secara tepat waktu dan aman. Sampai Mama sempat terjatuh dari motor saat hujan deras hanya untuk menjemput Kakak di sekolah. Kakak ingat itu, Ma. Mama hebat bisa melewati masa-masa itu sampai akhirnya kita semua bisa menyusul Ayah ke pulau Jawa.

  

Ma, sepertinya memori masa kecil Kakak yang melekat dipikiran masih sangat banyak, tapi terlalu panjang kalau Kakak sebut satu persatu di surat ini, Ma. Jadi, Kakak melompat saja ke susunan memori saat Kakak sudah mulai beranjak dewasa. Bagaimana?

Teringat saat dulu Mama dan Ayah sepakat mendaftarkan Kakak ke sebuah Sekolah Menengah Atas pesantren saat Kakak berusia 14 tahun menuju 15 tahun. Saat itu, Mama tidak pernah bosan mengingatkan Kakak belajar siang dan malam. Bahkan Kakak ingat, Ma. Sesekali Mama memarahi Kakak yang malasnya sedang kambuh. “Nuruuuul. Masya Allaaaah. Belajar!”. Begitu kan ya, Ma, kalau Mama marah? Hihi.

Saat dinyatakan lulus pesantren, komunikasi kita pun dibatasi di asrama. Hanya hari Selasa dan Jumat saja Kakak boleh berkomunikasi dengan dunia luar melalui telepon. Tiba saat hari Selasa dan nomor yang pertama Kakak hubungi itu tentu saja nomor Ayah dan Mama. Saat menelpon, Ayah bercerita kalau Mama menangis sepanjang malam karena Kakak masuk asrama. Kakak cuma bisa ketawa dan lagi sambil menangis, Ma. Entah karena rindu atau terharu.

Setelah Kakak lulus dari SMA, Mama dan Ayah membebaskan Kakak untuk memilih jurusan dan universitas yang Kakak mau. Saat itu Kakak memilih Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin sebagai target tempat Kakak menimba ilmu selanjutnya. 

Kakak berhasil lulus tes di kampus terbaik di Sulawesi itu. Artinya, Kakak harus kembali berdomisili di Makassar. Lagi-lagi kejadian saat Kakak di pesantren terulang kembali. Mama menangis lagi dengan pergi nya Kakak untuk merantau ke tanah kelahiran sendiri. So do I, Ma. Kakak menangis sekencang mungkin, bahkan Kakak ingat Kakak sampai jatuh sakit di tahun pertama Kakak di Makassar.

Setelah tahun pertama terlewati, Kakak mulai bisa beradaptasi jauh dari Mama dan Ayah. Handphone pun menjadi sarana Kakak menuntaskan  rindu. Sampai pada akhirnya Mama menceritakan sesuatu yang tidak biasa pada Kakak.

“Kak, senang nggak kalau Kakak punya adik lagi?”

Itu kalimat yang sangat Kakak ingat sekitar 2 tahun lalu. 

“Mama hamil lagi loh, Kak”

Tahu tidak, Ma? Kaget sekaget-kagetnya Kakak dengar seorang ibu umur 44 tahun bilang begitu. Kaget yang membuat Kakak lompat kegirangan.

9 bulan Mama jalan dengan perut berisi manusia kecil. Terkadang Kakak takut dengan segala gerak Mama, bahkan melangkah 1 kali saja. 

Kakak ingat dulu saat bulan puasa tahun 2013 dan Mama sedang hamil besar, Kakak niat menemani Mama belanja untuk keperluan lebaran dengan harapan Kakak yang akan menjaga Mama. Tapi ternyata sebaliknya, Mama yang menjaga Kakak. Kakak mengeluh duluan daripada Mama. Ah, Mama memang jagoan kok!

 

Ohiya, Ma. Sepertinya Mama belum pernah dengar cerita ini. Tahu, tidak? Dulu waktu Kakak dengar kabar Mama sudah memasuki kamar operasi untuk kegiatan sectio sesarica atau yang biasa orang sebut operasi sesar, Kakak bingung harus bagaimana selain berdoa agar nyawa Mama dan adik selamat. Kakak sembunyi di bawah selimut sambil menangis sampai kabar operasi sesarnya berhasil, Ma. Kakak takut akan banyak hal. Tidak usah Kakak jelaskan, Mama pasti mengerti kan? 

Ma, surat ini tidak akan berhenti kalau Kakak ingin menceritakan semua tentang Mama. Mama yang sangat kooperatif jika diajak cerita tentang apapun, Mama dengan sifat manja dan sensitifnya yang membuat rindu, Mama yang sangat kuat, dan Mama yang sangat hobi jalan-jalan. Hehe.

Terimakasih sudah melakukan yang terbaik untuk Kakak. Maaf, Kakak belum bisa membalas jasa Mama satu persatu. Terlalu banyak, Ma. Tidak sebanding dengan apa yang bisa Kakak lakukan. Sampai detik ini yang Kakak bisa persembahkan cuma gelar sarjana Kakak yang sempat membuat Mama menangis terharu menyaksikan Kakak disumpah sarjana kedokteran. Tapi menurut Kakak itu tidak ada artinya sama sekali, Ma.

Ma, hari ini Kakak wisuda. Kembali menggunakan toga hanya untuk seremonial gelar. Kakak tahu Mama tidak bisa hadir kembali karena sesuatu dan lain hal. Tapi tidak apa-apa, Ma. Setidaknya cuma ini yang bisa Kakak persembahkan ke Mama sampai detik ini. 

Sekalian ya, Ma. Hari ini, 22 Desember 2015, merupakan hari ibu yang ke sekian kalinya seumur hidup Kakak. Kakak mau mengucapkan terimakasih setinggi-tingginya untuk Mama yang sudah setia mengurusi hidupku dari A sampai Z. Mama yang kuat, Mama yang gaul, Mama yang baik hati. Selamat hari ibu, Ma. Semoga Mama diberikan umur yang panjang sampai kelak Mama bisa melihat Kakak mengucapkan sumpah dokter atau bahkan sempat memeluk turunan Kakak kelak. Selamat hari ibu, Ma.

Cerita dibalik UGD

image
photo by : google.com

Hari ini saya sedang duduk di antara forum yang lumayan lama sejak saya memilih untuk meninggalkannya. Mendengarkan hal-hal yang kurang saya mengerti membuat saya bosan dan akhirnya memilih untuk menceritakan salahsatu pengalaman berharga melalui tulisan ini.

18 November 2015, sekitar sebulan lebih 6 hari semenjak pengalaman baru memasuki kehidupan menjadi seorang dokter muda. Berinteraksi langsung dengan pasien yang tidak berpura pura menjadi orang sakit. Iya, ‘pasien pura-pura’, layaknya orang sewaan kampus di setiap ujian praktikum saat tingkat pre-klinik.

Melihat dan menyentuh langsung para pasien, mendengarkan segala keluhan mereka hingga cerita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit yang mereka derita, memberikan penjelasan tentang penyakit mereka dengan segala pilihan kalimat yang sebisa mungkin bisa membuat mereka mengerti tapi tidak seketika kaget dan panik, dan tindakan-tindakan lainnya yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan saya lakukan saat itu. Mengaplikasikan teori yang diperoleh ditingkat pre-klinik menjadi salahsatu kepuasan tersendiri di dunia yang kami sebut ‘per-coass-an’.

Sebulan sebelum menjajaki pengalaman klinik, saya bersama beberapa teman berembuk untuk memilih salahsatu dari enam bagian yang akan menjadi bagian pertama kami di rumah sakit. Neurologi menjadi pilihan yang kami rasa tepat dengan berbagai pertimbangan alasan, terutama untuk melatih fisik dalam menghadapi bagian-bagian selanjutnya. Bermodalkan doa sendiri dan doa orangtua, saya berani meng-klik ‘OK’ dipilihan ‘Neurologi’.

Neurologi merupakan bagian yang berhubungan dengan segala sistem saraf, termasuk otak. Jadi, jangan heran kebanyakan pasien yang masuk adalah pasien-pasien strok. Karena penyakit ini menyerang sistem saraf pusat, yaitu otak. Selain itu, pasien dengan gejala pusing entah itu berputar atau tertusuk tusuk, pasien dengan nyeri pada punggung, dan lain lain pun menjadi pasien yang saya jadikan bahan belajar. Terimakasih setinggi-tingginya untuk semua pasien itu.

Bukan penyakit-penyakit itu yang ingin saya bahas di tulisan ini. Tapi, coba bayangkan bagaimana rasanya melihat bahkan menyentuh, lebih lagi memeriksa pasien dengan kesadaran menurun. Bisa kalian sebut dengan koma, bisa juga kalian sebut dengan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.
Begini ceritanya…
Unit Gawat Darurat (UGD) Non-Bedah salah satu rumah sakit di kota Makassar, ruangan dengan luas yang bisa menampung sekitar 12 pasien, ruangan yang menampung pasien berbeda setiap harinya, ruangan yang menjadi tempat transit pasien sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap, menjadi tempat tugas saya selama seminggu pertama di per-coass-an.

UGD dengan tenaga ahli yang seharusnya memiliki keahlian yang lincah dan tangkas sekaligus tepat. Bandingkan dengan orang yang baru pertama kali menyentuh segala apapun tentang rumah sakit. Sungguh, saat itu saya sangat bingung harus bagaimana. Wajar saja, dokter residen (dokter yang sedang dalam masa sekolah pengambilan title spesialis) yang menjadi partner saya selama seminggu sempat naik darah menghadapi saya. Untungnya saya cepat beradaptasi dengan keadaan UGD.

Jelas teringat, hari ketiga saya di UGD, sebelum pergantian jadwal jaga siang ke malam, sekitar pukul 4 sore sebelum saya berpindah menuju bangsal, pasien laki-laki dengan kesadaran menurun masuk ke ruang UGD. Saya hanya melihat sekilas saja dan sungguh itu pertama kalinya saya melihat pasien dengan kondisi seperti itu. Dokter juga manusia biasa. Jadi, wajar saja saya memiliki perasaan takut ketika melihat pasien itu. Jangan tanya kenapa saya takut, sayapun tidak bisa menjelaskannya.

Pukul 9 malam, saat waktu pergantian jaga kembali, saya kembali berjalan dari bangsal menuju UGD untuk bertugas hingga pukul 7 pagi. Saya tak menyangka setiba di UGD, teman yang bertugas di UGD sebelum saya memberitahu bahwa pasien yang saya lihat sebelum ke bangsal itu masih bertahan di UGD. Itu artinya, saya memiliki tugas untuk memeriksa pasien tersebut sesering mungkin hanya untuk memastikan dia masih bernyawa atau tidak. Sekali lagi, ini pengalaman pertama saya untuk menghadapi pasien yang hanya bermodalkan detak jantung dan bantuan napas untuk bertahan saat itu.

Setiap jam nya, saya menghampiri pasien itu untuk memeriksa tanda vitalnya, mulai dari tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu. Setiap waktu tersebut juga istri dari pasien tersebut selalu melontarkan pertanyaan yang sama : “masih hidup ji suami ku, dok?”. Pertanyaan singkat yang membuat saya bingung untuk menjelaskan mulai dari mana. Bingung memilih kalimat yang tepat. Untung saja saat itu dokter residen saya masih bisa menemani dan mengarahkan saya dalam menghadapi pasien tersebut.

Pukul 12 malam, tiba saat semua orang mengalami kesadaran menurun tingkat terendah, yaitu mengantuk. Sebagai manusia normal, saya pun mengalaminya. Tapi, rasa was-was saya lebih tinggi daripada kantuk itu. Bagaimana tidak? Dokter residen saya izin untuk meninggalkan ruang UGD dan saya pun menjadi tenaga medis pendidikan dokter satu-satunya dari neurologi yang menjaga pasien koma tersebut. Suasana UGD tetap ramai dengan pasien-pasien dari bagian lain, seperti penyakit dalam dan jantung. Tapi, saya tetap merasa was-was.

Pukul 3 malam, saat saya merasa kesadaran saya tersisa 40% lagi, saat itu juga kesadaran saya dinaikkan seketika dengan tangisan istri pasien koma tersebut. Akhirnya, banyak perkiraan yang ada di dalam pikiran saya jika saja pasien ini meninggal. Mungkin si istri pasien masih belum siap menjadi janda, mungkin si istri pasien belum siap membimbing dan merawat anak-anaknya yang sepengelihatan saya saat itu mereka memiliki 2 anak masing-masing laki-laki dan perempuan yang berumur sekitar 10 tahun dan 5 tahun, mungkin si istri syok dengan kepergian suaminya dengan cara seperti ini. Entahlah. Yang jelas, saat itu kantuk saya seketika hilang.

Pukul 6 pagi, sebelum saya izin pada dokter residen untuk meninggalkan ruang UGD hanya untuk sekedar bersiap-siap kembali melanjutkan tugas di ruang yang sama dari pukul 7 pagi hinggal pukul 4 sore, saya menyempatkan diri untuk memeriksa kembali tanda vital pasien koma tersebut.

Tekanan darah sudah tidak bisa terdengar dengan stetoskop, nadi sudah sangat lemah, pernapasan tetap dengan bantuan alat, suhu pun sudah hampir dibawah normal. Saya panik. Asli sangat panik. Melapor ke residen menjadi salahsatunya tugas saya ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada pasien tersebut.

Si istri pasien masih dengan pertanyaan yang sama, namun kali ini saya menjawab nya dengan jawaban yang berbeda dari biasanya. Saya memberanikan diri untuk menjelaskan keadaan suaminya saat itu. “Bu, keadaan bapak sudah sangat lemah. Tekanan darah serta nadi sudah sangat lemah. Tolong doakan bapak bisa mendapatkan yang terbaik. Nyawa tetap ada di tangan Tuhan”, kalimat tersebut seketika meluncur bebas dari mulut saya disertai wajah yang sedikit memelas. Si istri hanya bisa membalas dengan tangisan.

Setelah rapih, saya kembali ke UGD untuk melanjutkan tugas hingga pukul 4 sore. Belum sempat duduk dan menyapa dokter residen saya, si istri teriak kesetanan meminta bantuan kepada kami. “DOKTER, TOLONG! ITU KENAPA DATAR?”, sambil menunjuk layar yang biasa digunakan untuk melihat detak jantung dan saturasi oksigen pasien. Betul, datar. Saya dan dokter residen saya menghampiri pasien tersebut.

Dokter residen memeriksa dari ujung kepala hingga ujung kaki, serta memeriksa kembali tanda-tanda vital. Setelah itu, dokter residen mengkode saya dan saya menangkapnya sebagai kode bahwa “Ul, pasiennya sudah meninggal”. Kami semua menggeleng dan menunduk. Si istri pasien berteriak histeris sambil mengulang-ulang kalimat “Bapak, kenapa ki ?”. Saya tidak kuat menahan sedih dan akhirnya saya meninggalkan jenazah tersebut dan menangis di belakang. Wajar kan? Saya kan manusia.

Akhirnya keranda berwarna hijau sampai juga di ruang UGD untuk menjemput jenazah tersebut. Sambil memperhatikan dari jauh, saya berdoa semoga arwah bapak itu diterima disisi Tuhan.

Akhirnya, setelah melewati hari itu, saya sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, terbiasa menghadapi pasien dengan keadaan seperti itu, menjelaskan kepada keluarga pasien keadaan pasien dengan kondisi umum pasien yang buruk, melepaskan kepergian pasien dan melihat keranda hijau itu tiba untuk menjemput jenazah.

Terimakasih, ruang UGD. Terimakasih telah menampung pasien yang bisa saya jadikan bahan belajar saya, baik untuk berinteraksi maupun berklinisi. Terimakasih juga sudah menyediakan keadaan yang membuat saya menelpon orangtua saya setiap harinya. Terimakasih.

RENUNGAN 1/2 1436H

“Kak, lebaran tahun ini di Soppeng dulu ya. Gak usah balik ke rumah. Gak apa-apa kan?”, kira-kira begitulah pernyataan dan pertanyaan singkat dari mulut ibu saya yang sontak membuat sedih kurang dari 1 detik. Saat itu saya benar-benar bimbang mau menjawab apa. Untuk menjawab “iya, gak apa-apa” sungguh terdengar dusta, karena sungguh saya rindu rumah dan penghuninya. Tapi, untuk membantah dan tetap merengek pulang saya pikir tindakan bodoh untuk gadis seusia saya, akan terlihat childish pastinya.

Karena berbagai alasan yang masuk akal dari orang tua, akhirnya saya meng-iya-kan permintaan mereka. Pun saya juga tidak ingin menjadi anak durhaka di mata mereka dan Tuhan.

Akhirnya, pengalaman Ramadhan tidak bersama orangtua untuk pertama kalinya dimulai. Masa menjadi anak rantau pun diperpanjang. Tapi, saya merasa beruntung bisa menjadi anak rantau yang bergabung di berbagai komunitas maupun organisasi. Beruntung juga saya pernah menghabiskan masa kecil di Makassar. Lebih beruntung lagi karena kebanyakan keluarga-baik dari ayah maupun ibu saya-berdomisili di Makassar. Jadi, saya tidak merasa sepi setiap harinya.

Ramadhan tahun ini dimulai pada tanggal 18 Juni 2015. Mulai saat itu sampai di setengah perjalanan Ramadhan kali ini, agenda saya di setiap harinya selalu saja terisi dengan ajakan buka puasa bersama. Tentunya ini adalah hal-hal yang membuat saya merasa beruntung, seperti yang sudah saya jelaskan di paragraf sebelumnya.

“Hari ke berapa mi ini puasa? Bisa cepat-cepat saja lebaran?”, kadang saya merasa risih mendengar orang-orang yang melontarkan kalimat tersebut. Masih ada saja orang yang ingin meninggalkan bulan suci yang jelas-jelas selalu dirindukan kedatangannya karena segala bentuk amalan menjadi dua kali lipat pahalanya. Dan yang paling saya suka dari bagian Ramadhan adalah tali silaturahmi yang ajaib seketika sangat kuat antar satu dengan yang lainnya, mulai dari yang saling mengenal hingga tidak mengenal sama sekali. Buka puasa bersama menjadi salah satu media silaturahminya.

Baru kali ini saya merasa harus benar-benar mengatur jadwal ajakan buka puasa bersama atau biasa disebut dengan istilah bukber di kalangan anak muda zaman sekarang. Bukannya sok sibuk, tapi entah kenapa saya selalu merasa sedih ketika saya melewatkan satu momen. Itu menjadi alasan saya mengatur jadwal bukber sebaik mungkin agar semua ajakan bisa saya ikuti. Meskipun hanya harus menampakkan muka saja di salah satu ajakan bukber demi mendatangi ajakan bukber lainnya yang lebih prioritas.

Ajakan bukber mulai dari teman komunitas, kampus, hingga teman semasa duduk di bangku sekolah dasar pun berdatangan. Selain itu, karena kebetulan Ramadhan kali ini bertepatan dengan jadwal wisuda rutin yang diadakan universitas saya, kerap kali juga undangan syukuran yang dibarengi dengan bukber berdatangan. Saya memang orang yang sangat sulit menolak ajakan apalagi rejeki, maka sekali lagi saya akan sedih untuk melewatkan momen meski hanya satu. Sebisa mungkin saya akan menghadirinya.

Beruntung, Ramadhan memang membuat saya merasa beruntung dan tentunya bersyukur. Beruntung bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang bahkan sangat jarang untuk sekadar menyapa di hari-hari biasanya. Bersyukur karena bisa merasakan kenikmatan dan kekuatan silaturahmi di bulan Ramadhan kali ini. Beruntung saya tidak pulang ke rumah, bersyukur saya masih diberikan kejernihan berpikir dan bertindak untuk menjadi anak yang patuh pada orangtua.

Namun satu kesedihan saya : Mengapa Ramadhan hanya 30 hari? Bisakah engkau menambahnya 1 hari saja, Tuhan? Agar saya bisa lebih lama sehari saja menjalin silaturahmi lebih erat lagi dengan orang-orang di sekitar saya. Agar kekuatan Ramadhan masih bisa saya rasakan lebih lama. Agar saya bisa menjalankan hari demi hari dengan baik setelah Ramadhan meninggalkan saya. Karena sesungguhnya saya percaya pada sebuah hadits (HR. at-Tarmidzi : 3545) yang berbunyi “… Dan celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan, kemudian melewatinya sebelum dosa-dosanya diampuni”.

Semoga silaturahmi menjadi bagian penghapus dosa. Ramadhan memang ajaib. Ramadhan 1436 yang menyenangkan.

 

“Ciuman Terpanjang” di Panggung Makassar International Writer Festival

“Kadang hidup begitu tegas tak menawarkan kesempatan lebih dari sekali, dan sebaiknya aku terima peluang yang ditawarkan oleh kehidupan itu” – Khrisna Pabichara

10 April 2015, obrolan pagi saya dan salahsatu sahabat saya tidak seperti biasanya. Info menarik ia sampaikan disaat kami sedang berada dalam perjalanan menuju kampus. “Coba cari info pendaftaran volunteer MIWF tahun ini deh, sepertinya sudah mulai”, begitu kira-kira kalimat yang menjadi stimulus saya untuk membuka link di search engine untuk sekedar mencari informasi tersebut. Saat itu juga, saya menemukannya dan mencari tahu lebih dalam.

MIWF adalah singkatan dari Makassar International Writer Festival, festival sastra internasional pertama dan hanya diadakan di Indonesia Timur. Acara yang diselenggarakan oleh Rumata’ Artspace sejak tahun 2011 ini terkenal dengan suasana santai dan informal serta menyediakan program yang beragam, menarik, dan menghibur. Mendatangkan berbagai penulis lagu hingga puisi, baik dari dalam maupun luar negeri. Begitulah kira-kira info yang saya dapatkan sekilas mengenai MIWF di website nya. Jadi, tidak ada salahnya jika saya coba untuk terlibat dalam acara tersebut. Pikiran itu yang terus menjadi pertimbangan untuk mendaftarkan diri sebagai volunteer.

Setahun lalu, hanya berbekal ke-iseng-an belaka, saya menghadiri acara tersebut. Niatnya hanya untuk menemani tamu dari Jakarta mengelilingi Makassar. Tapi, melihat suasana Fort Rotterdam ramai pengunjung, saya jadi penasaran dan akhirnya memilih mengajak para tamu saya untuk masuk ke sana. Sambil menyelam minum air, sambil memenuhi rasa penasaran karena keramaian sekaligus mengajak mereka melihat-lihat salahsatu bangunan bersejarah Makassar.

Dan betul saja, menurut saya acaranya memang menarik. Setahun lalu memang saya hanya jadi penonton, tahun ini, sekali lagi, tidak ada salahnya jika saya coba untuk terlibat dalam acara tersebut. Pikiran itu yang menjadi pertimbangan tambahan untuk mendaftarkan diri sebagai volunteer.

Saya segera mengeksekusi informasi yang sudah saya dapatkan. Memenuhi persyaratan dan berdoa agar diterima sebagai volunteer di acara internasional tersebut. Menunggu hasil menjadi bagian yang membuat saya sedikit agresif untuk selalu mengecek website nya di makassarwriter.com . Sempat tertunda dan membuat kecewa. Tapi saat tiba nama-nama volunteer diumumkan, wajah sumringah dan sikap hiperaktif saya kambuh. Saya diterima sebagai volunteer MIWF 2015!

Persiapan demi persiapan untuk menghadapi acara tersebut dimulai. Selama terlibat di persiapan, saya tidak hanya mendapatkan teman-teman baru, tapi saya juga mendapatkan ilmu baru. Oh iya, dan tentu saja nama-nama baru dari pengisi-pengisi acara MIWF.

Khrisna Pabichara, salahsatu nama yang sering terdengar selama persiapan acara tersebut. Tidak hanya di lingkup volunteer MIWF, peminat-peminat MIWF yang saya kenalpun sering menyebut namanya. Siapa dia? Awalnya saya tidak tahu, tapi ke-tidak tahu-an saya membuat saya penasaran. Belakangan saya tahu, Khrisna Pabichara adalah seorang penulis dan penyair yang dikagumi, terutama di event MIWF sebelum-sebelumnya. Terlihat dari ekspresi beberapa orang yang menjadi tempat saya mencari tahu ketika saya bertanya mengenai beliau. Disitu saya tiba-tiba bermimpi ‘bagaimana jika seandainya saya bisa berbincang-bincang langsung dengan beliau?’.

Selama resmi menjadi volunteer, saya tidak jarang menerima ajakan untuk menghadiri kegiatan berbau sastra. Termasuk kegiatan malam puisi, kegiatan yang menjadi awal mula saya melihat sosok Khrisna Pabichara. Tidak hanya melihat beliau duduk manis di sana, tapi melihat beliau membaca puisi membuat saya setuju dengan pendapat orang-orang yang sempat menjadi tempat saya bertanya mengenai sosok beliau. Saya kagum.

Saat mengikuti kegiatan Malam Puisi, saya sudah berstatus menjadi salah satu peserta di kelompok Kelas Menulis yang beranggotakan orang-orang yang memiliki passion di dunia menulis dan ingin belajar menulis. Selepas kegiatan Malam Puisi, kekaguman saya akan seorang Daeng Khrisna, begitu sapaan orang-orang kepada Khrisna Pabichara, belum pudar.

Mimpi saya pun masih melayang-layang : ‘bagaimana jika seandainya saya bisa berbincang-bincang langsung dengan beliau?’. Beberapa detik selepas saya mengingat mimpi saya, terlihat pemberitahuan dari grup Kelas Menulis bahwa Khrisna Pabichara menjadi salahsatu peserta grup tersebut. Entah menjadi peserta atau menjadi guru didalamnya. Saat itu, saya ingin berterimakasih kepada Om Mansyur Rahim atau yang lebih akrab saya sapa Om Lebug karena sudah membuat grup sekaligus mengundang Daeng Khrisna bergabung di grup tersebut. Terimakasih tak terhingga, Om Lebug!

Selang sehari setelah Malam Puisi (semoga ingatan saya masih baik), Daeng Khrisna mengajak peserta Kelas Menulis untuk bertemu dalam suasana non formal. ‘Wisata Bakat’, begitulah kira-kira istilah ajakan karaoke bersama di suasana non formal yang saya maksudkan diatas. Sangat jelas ingatan saya, saat itu jarum jam hampir menunjukkan pukul 11 malam dan saya benar-benar baru saja duduk cantik di kamar, ajakan wisata bakat itu baru saja saya terima. Rasanya tubuh ingin menolak karena tergoda dengan rayuan kasur yang mengajak beristirahat, namun hati berfirasat lain. Seperti ada panggilan hati untuk bergabung. Saya kemudian bergerak, entah karena firasat baik saya atau karena saya memang sangat senang jika ada yang mengajak karaoke. Entahlah.

Setibanya di tempat karaoke, saya tidak menyangka jika kondisi nya akan hanya ada satu wanita diantara beberapa lelaki di dalam ruangan bernyanyi. Iya, satu wanita, dan itu hanya saya. Jelas saja canggung, meskipun saya kenal beberapa lelaki diantaranya. Lebih canggung lagi ketika saya terjebak untuk menyanyikan lagu Cindai nya Siti Nurhaliza yang menjadi request-an Om Lebug. Benar-benar canggung. Saya malu.

Setelah ber ‘wisata bakat’, kami kembali ke rumah masing-masing. Selama perjalanan pulang bersama kak Na’, salah satu peserta kelas menulis juga, saya bercerita banyak termasuk mimpi saya yang menyangkut Daeng Khrisna. Ternyata cerita saya berbuah kesenangan.

Grup Kelas Menulis kembali heboh dengan cerita-cerita bebas, termasuk tentang kegiatan bernyanyi bersama beberapa menit sebelumnya. Termasuk pula komentar-komentar mereka mengenai ‘Cindai’. Saya merasa akan menjadi salahsatu orang yang diingat di ‘wisata bakat’ tersebut. Bagaimana tidak? Satu wanita diantara beberapa lelaki di ruangan itu. Seketika, kalimat iseng kak Na’ di grup membuat saya kaget, tapi saya tahu itu hanya ke-iseng-an belaka dari hasil cerita saya, tapi tetap saja memberikan saya harapan lebih. “Kerennya itu kalau Ulma sama Daeng Khrisna duet”, begitulah kira kira kalimat iseng kak Na’. Yang membuat saya jauh lebih kaget adalah balasan Daeng Khrisna : “Ayomi duet baca puisi, nanti kita latihan, kak ulma”. Wow!

Awalnya saya percaya tidak percaya. Saya sama sekali tidak berani untuk menanyakan langsung kepada Daeng Khrisna, tapi kiriman link video contoh duet pembacaan puisi dari Daeng Khrisna melalui Om Lebug membuat saya-mau-tidak-mau harus menanyakan langsung kepada Daeng Khrisna. Contoh yang dimaksudkan adalah berbau nyanyian melayu seperti ‘Cindai’, pantas saja Daeng Khrisna mengajak saya berduet. Disitulah saya mulai berinteraksi dengan Daeng Khrisna. Mengatur jadwal bertemu, mengatur perihal penampilan, maupun cerita lepas menjadi bahan obrolan kami saat itu.

Saat itu, Daeng Khrisna menawarkan saya untuk menemani beliau tampil membacakan puisi bersama di panggung MIWF 2015. Menjadi beban saya saat itu. Bagaimana tidak? Saat itu status saya adalah volunteer MIWF 2015, saya berpikir apakah saya bisa menjadi volunteer yang notabene nya akan sibuk di acara tersebut nantinya sekaligus menjadi pengisi acara yang butuh latihan sebelumnya?

Beberapa alasan mengapa saya pada akhirnya menerima tawaran tersebut adalah tiga. Pertama : Daeng Khrisna meminta izin secara langsung kepada ketua divisi saya di MIWF 2015, kedua : saya merasa tertantang dengan kalimat Om Lebug, “jangan puas jadi penonton saja, jadilah penampil”, ketiga : mari kembali ke kalimat canggih di baris pertama tulisan saya, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali.

Selama MIWF diadakan tertanggal 3-6 Juni 2015, beberapa kali saya mengadakan janji pertemuan latihan dengan beliau. Selalu tertunda, konsep beberapa kali diubah. Dimulai dari mengiringi beliau berpuisi dengan nyanyian melayu, mengiringi beliau dengan bernyanyi salahsatu lagu band Padi, hingga hanya melakukan story telling.

Sempat kehilangan semangat karena kecewa dengan penundaan dan pergantian konsep, tapi saya selalu mengingat alasan-alasan saya menerima tawaran Daeng Khrisna. Sehingga, jujur, saya benar-benar menjadi kembali bersemangat. Terlebih lagi, saya selalu ingin membanggakan Ayah saya yang sedari dulu sangat senang dengan dunia sastra, terutama puisi. Setidaknya, saya memiliki laporan kalau saya melakukan hal-hal positif selama berada jauh dari beliau. Nasib perantau, begitulah kira-kira.

5 Juni 2015, hanya beberapa jam sebelum tampil di panggung berhiaskan konsep buku-buku ala MIWF, saya bertemu Daeng Khrisna. Beliau hanya sekedar memberikan potongan teks cerpen karya Leila S. Chudori berjudul “Ciuman Terpanjang” dan membagikan beberapa bagian yang harus saya baca di panggung nantinya. “Saya mau kembali ke hotel dulu untuk mandi dan istirahat sebentar, nanti saya hubungi kalau sudah kembali ke Rotterdam ya”, begitu kalimat yang terlontar sebelum kami berpisah untuk bertemu kembali di latihan yang bisa saya pastikan hanya 1-2 jam sebelum tampil di depan sepasang mata dari pengarang cerpen yang akan saya bacakan nantinya bersama Daeng Khrisna.

Grogi, perasaan tidak karuan, panik, bahkan hampir mengundurkan diri untuk tampil terjadi di sela-sela Daeng Khrisna pamit ke hotel untuk sementara. Beruntung ada segelintir orang yang menguatkan, dibalik tiga alasan yang memang saya pegang. Terimakasih tak terhingga juga untuk kalian!

Sekembalinya Daeng Khrisna ke Fort Rotterdam, dimana acara tersebut di adakan, beliau menghubungi saya untuk merapat ke sekitar panggung. Disana ada dua orang lain yang ternyata menjadi teman beliau membacakan puisi juga. Hanya saja dua orang tersebut bertugas lain dengan saya. Mereka akan mengiringi kami membacakan cerpen dengan bernyanyi dan bermain gitar. Belakangan saya baru mengetahui dua orang tersebut juga kenalan baru Daeng Khrisna, sama seperti saya.

Akhirnya tiba saatnya kami yang bermodalkan hanya sekali-dua kali melatih diri untuk memberikan yang terbaik kepada penonton, telah dipanggil oleh master of ceremony (MC) MIWF 2015 untuk naik ke atas panggung. Langkah pertama saja sudah gemetaran, langkah kedua mencoba biasa, langkah ketiga pura-pura tidak melihat penonton, langkah keempat lagi-lagi mencoba biasa, dan seterusnya. Sekilas terdengar teriakan yang memanggil nama saya saat di atas panggung dan membuat saya sontak semakin gemetaran. Tapi, kebiasaan saya untuk menghilangkan gemetaran dengan cara menghentak hentakkan kaki secara pelan berhasil mengurangi rasa gemetar tersebut.

Kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf coba saya bacakan dengan baik dan tentunya menghilangkan kesan gemetar. Hingga akhirnya tertunaikan sudah tugas saya menemani Daeng Khrisna di panggung internasional yang membuat saya bangga karena bisa menginjakkan kaki sebagai pengisi acara.

Rasa bangga meningkat ketika Daeng Khrisna memperkenalkan saya dan dua teman lainnya sekaligus menceritakan awal pertemuan kami untuk berkolaborasi di satu panggung. Semakin meningkat pula rasa bangga ketika salah satu rekan volunteer memberikan pujian “saya tidak menyangka akan ada mahasiswa kedokteran yang pandai membaca puisi seperti kamu”. Meningkat pula rasa bangga lainnya ketika teman-teman yang sengaja datang hanya untuk melihat penampilan saya memuji hasil tampilan saya di atas panggung MIWF.

Namun, dibalik rasa bangga tersebut, saya selalu bersyukur atas takdir Tuhan yang membawa saya hingga di titik mimpi dadakan saya terwujud. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya bisa menjadi pengisi acara di kegiatan tersebut yang sebelumnya saya hanya berniat sekedar menjadi volunteer, yang setahun lalu saya hanya menjadi penonton.

Bagaimana jika saat itu saya tidak tertarik dengan informasi dari sahabat saya tentang pendaftaran MIWF?
Bagaimana jika saya tidak menjadi peserta Kelas Menulis?
Bagaimana jika saya tidak menghadiri kegiatan Malam Puisi?
Bagaimana jika saat itu saya lebih memilih godaan kasur untuk mengistirahatkan tubuh saya dibandingkan mengikuti firasat baik saya?
Bagaimana jika saya tidak terjebak menyanyikan lagu ‘Cindai’?
Bagaimana jika saya tidak menceritakan mimpi saya kepada kak Na’?
Bagaimana jika saya tidak merasa tertantang dengan kalimat Om Lebug?
Bagaimana jika saya memilih mundur karena merasa tidak mampu?
Bagaimana jika tidak ada penyemangat-penyemangat lainnya?
Dan yang terpenting, mari kembali ke kalimat pertama dari tulisan saya ini, bagaimana jika saya tidak menerima peluang dari yang ditawarkan kehidupan kala itu?
Mungkin saya tidak akan menceritakan semua nya ditulisan saya sekarang. Mungkin hingga detik ini saya hanya menjadi penonton tanpa bermain di panggung. Percayalah, takdir tuhan memang selalu indah. Ya, pada waktunya.

Notes : Terimakasih tak terhingga untuk orang-orang yang terlibat di cerita ini, baik disebutkan maupun tidak. Saya sayang kalian!🙂