“Ciuman Terpanjang” di Panggung Makassar International Writer Festival

“Kadang hidup begitu tegas tak menawarkan kesempatan lebih dari sekali, dan sebaiknya aku terima peluang yang ditawarkan oleh kehidupan itu” – Khrisna Pabichara

10 April 2015, obrolan pagi saya dan salahsatu sahabat saya tidak seperti biasanya. Info menarik ia sampaikan disaat kami sedang berada dalam perjalanan menuju kampus. “Coba cari info pendaftaran volunteer MIWF tahun ini deh, sepertinya sudah mulai”, begitu kira-kira kalimat yang menjadi stimulus saya untuk membuka link di search engine untuk sekedar mencari informasi tersebut. Saat itu juga, saya menemukannya dan mencari tahu lebih dalam.

MIWF adalah singkatan dari Makassar International Writer Festival, festival sastra internasional pertama dan hanya diadakan di Indonesia Timur. Acara yang diselenggarakan oleh Rumata’ Artspace sejak tahun 2011 ini terkenal dengan suasana santai dan informal serta menyediakan program yang beragam, menarik, dan menghibur. Mendatangkan berbagai penulis lagu hingga puisi, baik dari dalam maupun luar negeri. Begitulah kira-kira info yang saya dapatkan sekilas mengenai MIWF di website nya. Jadi, tidak ada salahnya jika saya coba untuk terlibat dalam acara tersebut. Pikiran itu yang terus menjadi pertimbangan untuk mendaftarkan diri sebagai volunteer.

Setahun lalu, hanya berbekal ke-iseng-an belaka, saya menghadiri acara tersebut. Niatnya hanya untuk menemani tamu dari Jakarta mengelilingi Makassar. Tapi, melihat suasana Fort Rotterdam ramai pengunjung, saya jadi penasaran dan akhirnya memilih mengajak para tamu saya untuk masuk ke sana. Sambil menyelam minum air, sambil memenuhi rasa penasaran karena keramaian sekaligus mengajak mereka melihat-lihat salahsatu bangunan bersejarah Makassar.

Dan betul saja, menurut saya acaranya memang menarik. Setahun lalu memang saya hanya jadi penonton, tahun ini, sekali lagi, tidak ada salahnya jika saya coba untuk terlibat dalam acara tersebut. Pikiran itu yang menjadi pertimbangan tambahan untuk mendaftarkan diri sebagai volunteer.

Saya segera mengeksekusi informasi yang sudah saya dapatkan. Memenuhi persyaratan dan berdoa agar diterima sebagai volunteer di acara internasional tersebut. Menunggu hasil menjadi bagian yang membuat saya sedikit agresif untuk selalu mengecek website nya di makassarwriter.com . Sempat tertunda dan membuat kecewa. Tapi saat tiba nama-nama volunteer diumumkan, wajah sumringah dan sikap hiperaktif saya kambuh. Saya diterima sebagai volunteer MIWF 2015!

Persiapan demi persiapan untuk menghadapi acara tersebut dimulai. Selama terlibat di persiapan, saya tidak hanya mendapatkan teman-teman baru, tapi saya juga mendapatkan ilmu baru. Oh iya, dan tentu saja nama-nama baru dari pengisi-pengisi acara MIWF.

Khrisna Pabichara, salahsatu nama yang sering terdengar selama persiapan acara tersebut. Tidak hanya di lingkup volunteer MIWF, peminat-peminat MIWF yang saya kenalpun sering menyebut namanya. Siapa dia? Awalnya saya tidak tahu, tapi ke-tidak tahu-an saya membuat saya penasaran. Belakangan saya tahu, Khrisna Pabichara adalah seorang penulis dan penyair yang dikagumi, terutama di event MIWF sebelum-sebelumnya. Terlihat dari ekspresi beberapa orang yang menjadi tempat saya mencari tahu ketika saya bertanya mengenai beliau. Disitu saya tiba-tiba bermimpi ‘bagaimana jika seandainya saya bisa berbincang-bincang langsung dengan beliau?’.

Selama resmi menjadi volunteer, saya tidak jarang menerima ajakan untuk menghadiri kegiatan berbau sastra. Termasuk kegiatan malam puisi, kegiatan yang menjadi awal mula saya melihat sosok Khrisna Pabichara. Tidak hanya melihat beliau duduk manis di sana, tapi melihat beliau membaca puisi membuat saya setuju dengan pendapat orang-orang yang sempat menjadi tempat saya bertanya mengenai sosok beliau. Saya kagum.

Saat mengikuti kegiatan Malam Puisi, saya sudah berstatus menjadi salah satu peserta di kelompok Kelas Menulis yang beranggotakan orang-orang yang memiliki passion di dunia menulis dan ingin belajar menulis. Selepas kegiatan Malam Puisi, kekaguman saya akan seorang Daeng Khrisna, begitu sapaan orang-orang kepada Khrisna Pabichara, belum pudar.

Mimpi saya pun masih melayang-layang : ‘bagaimana jika seandainya saya bisa berbincang-bincang langsung dengan beliau?’. Beberapa detik selepas saya mengingat mimpi saya, terlihat pemberitahuan dari grup Kelas Menulis bahwa Khrisna Pabichara menjadi salahsatu peserta grup tersebut. Entah menjadi peserta atau menjadi guru didalamnya. Saat itu, saya ingin berterimakasih kepada Om Mansyur Rahim atau yang lebih akrab saya sapa Om Lebug karena sudah membuat grup sekaligus mengundang Daeng Khrisna bergabung di grup tersebut. Terimakasih tak terhingga, Om Lebug!

Selang sehari setelah Malam Puisi (semoga ingatan saya masih baik), Daeng Khrisna mengajak peserta Kelas Menulis untuk bertemu dalam suasana non formal. ‘Wisata Bakat’, begitulah kira-kira istilah ajakan karaoke bersama di suasana non formal yang saya maksudkan diatas. Sangat jelas ingatan saya, saat itu jarum jam hampir menunjukkan pukul 11 malam dan saya benar-benar baru saja duduk cantik di kamar, ajakan wisata bakat itu baru saja saya terima. Rasanya tubuh ingin menolak karena tergoda dengan rayuan kasur yang mengajak beristirahat, namun hati berfirasat lain. Seperti ada panggilan hati untuk bergabung. Saya kemudian bergerak, entah karena firasat baik saya atau karena saya memang sangat senang jika ada yang mengajak karaoke. Entahlah.

Setibanya di tempat karaoke, saya tidak menyangka jika kondisi nya akan hanya ada satu wanita diantara beberapa lelaki di dalam ruangan bernyanyi. Iya, satu wanita, dan itu hanya saya. Jelas saja canggung, meskipun saya kenal beberapa lelaki diantaranya. Lebih canggung lagi ketika saya terjebak untuk menyanyikan lagu Cindai nya Siti Nurhaliza yang menjadi request-an Om Lebug. Benar-benar canggung. Saya malu.

Setelah ber ‘wisata bakat’, kami kembali ke rumah masing-masing. Selama perjalanan pulang bersama kak Na’, salah satu peserta kelas menulis juga, saya bercerita banyak termasuk mimpi saya yang menyangkut Daeng Khrisna. Ternyata cerita saya berbuah kesenangan.

Grup Kelas Menulis kembali heboh dengan cerita-cerita bebas, termasuk tentang kegiatan bernyanyi bersama beberapa menit sebelumnya. Termasuk pula komentar-komentar mereka mengenai ‘Cindai’. Saya merasa akan menjadi salahsatu orang yang diingat di ‘wisata bakat’ tersebut. Bagaimana tidak? Satu wanita diantara beberapa lelaki di ruangan itu. Seketika, kalimat iseng kak Na’ di grup membuat saya kaget, tapi saya tahu itu hanya ke-iseng-an belaka dari hasil cerita saya, tapi tetap saja memberikan saya harapan lebih. “Kerennya itu kalau Ulma sama Daeng Khrisna duet”, begitulah kira kira kalimat iseng kak Na’. Yang membuat saya jauh lebih kaget adalah balasan Daeng Khrisna : “Ayomi duet baca puisi, nanti kita latihan, kak ulma”. Wow!

Awalnya saya percaya tidak percaya. Saya sama sekali tidak berani untuk menanyakan langsung kepada Daeng Khrisna, tapi kiriman link video contoh duet pembacaan puisi dari Daeng Khrisna melalui Om Lebug membuat saya-mau-tidak-mau harus menanyakan langsung kepada Daeng Khrisna. Contoh yang dimaksudkan adalah berbau nyanyian melayu seperti ‘Cindai’, pantas saja Daeng Khrisna mengajak saya berduet. Disitulah saya mulai berinteraksi dengan Daeng Khrisna. Mengatur jadwal bertemu, mengatur perihal penampilan, maupun cerita lepas menjadi bahan obrolan kami saat itu.

Saat itu, Daeng Khrisna menawarkan saya untuk menemani beliau tampil membacakan puisi bersama di panggung MIWF 2015. Menjadi beban saya saat itu. Bagaimana tidak? Saat itu status saya adalah volunteer MIWF 2015, saya berpikir apakah saya bisa menjadi volunteer yang notabene nya akan sibuk di acara tersebut nantinya sekaligus menjadi pengisi acara yang butuh latihan sebelumnya?

Beberapa alasan mengapa saya pada akhirnya menerima tawaran tersebut adalah tiga. Pertama : Daeng Khrisna meminta izin secara langsung kepada ketua divisi saya di MIWF 2015, kedua : saya merasa tertantang dengan kalimat Om Lebug, “jangan puas jadi penonton saja, jadilah penampil”, ketiga : mari kembali ke kalimat canggih di baris pertama tulisan saya, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali.

Selama MIWF diadakan tertanggal 3-6 Juni 2015, beberapa kali saya mengadakan janji pertemuan latihan dengan beliau. Selalu tertunda, konsep beberapa kali diubah. Dimulai dari mengiringi beliau berpuisi dengan nyanyian melayu, mengiringi beliau dengan bernyanyi salahsatu lagu band Padi, hingga hanya melakukan story telling.

Sempat kehilangan semangat karena kecewa dengan penundaan dan pergantian konsep, tapi saya selalu mengingat alasan-alasan saya menerima tawaran Daeng Khrisna. Sehingga, jujur, saya benar-benar menjadi kembali bersemangat. Terlebih lagi, saya selalu ingin membanggakan Ayah saya yang sedari dulu sangat senang dengan dunia sastra, terutama puisi. Setidaknya, saya memiliki laporan kalau saya melakukan hal-hal positif selama berada jauh dari beliau. Nasib perantau, begitulah kira-kira.

5 Juni 2015, hanya beberapa jam sebelum tampil di panggung berhiaskan konsep buku-buku ala MIWF, saya bertemu Daeng Khrisna. Beliau hanya sekedar memberikan potongan teks cerpen karya Leila S. Chudori berjudul “Ciuman Terpanjang” dan membagikan beberapa bagian yang harus saya baca di panggung nantinya. “Saya mau kembali ke hotel dulu untuk mandi dan istirahat sebentar, nanti saya hubungi kalau sudah kembali ke Rotterdam ya”, begitu kalimat yang terlontar sebelum kami berpisah untuk bertemu kembali di latihan yang bisa saya pastikan hanya 1-2 jam sebelum tampil di depan sepasang mata dari pengarang cerpen yang akan saya bacakan nantinya bersama Daeng Khrisna.

Grogi, perasaan tidak karuan, panik, bahkan hampir mengundurkan diri untuk tampil terjadi di sela-sela Daeng Khrisna pamit ke hotel untuk sementara. Beruntung ada segelintir orang yang menguatkan, dibalik tiga alasan yang memang saya pegang. Terimakasih tak terhingga juga untuk kalian!

Sekembalinya Daeng Khrisna ke Fort Rotterdam, dimana acara tersebut di adakan, beliau menghubungi saya untuk merapat ke sekitar panggung. Disana ada dua orang lain yang ternyata menjadi teman beliau membacakan puisi juga. Hanya saja dua orang tersebut bertugas lain dengan saya. Mereka akan mengiringi kami membacakan cerpen dengan bernyanyi dan bermain gitar. Belakangan saya baru mengetahui dua orang tersebut juga kenalan baru Daeng Khrisna, sama seperti saya.

Akhirnya tiba saatnya kami yang bermodalkan hanya sekali-dua kali melatih diri untuk memberikan yang terbaik kepada penonton, telah dipanggil oleh master of ceremony (MC) MIWF 2015 untuk naik ke atas panggung. Langkah pertama saja sudah gemetaran, langkah kedua mencoba biasa, langkah ketiga pura-pura tidak melihat penonton, langkah keempat lagi-lagi mencoba biasa, dan seterusnya. Sekilas terdengar teriakan yang memanggil nama saya saat di atas panggung dan membuat saya sontak semakin gemetaran. Tapi, kebiasaan saya untuk menghilangkan gemetaran dengan cara menghentak hentakkan kaki secara pelan berhasil mengurangi rasa gemetar tersebut.

Kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf coba saya bacakan dengan baik dan tentunya menghilangkan kesan gemetar. Hingga akhirnya tertunaikan sudah tugas saya menemani Daeng Khrisna di panggung internasional yang membuat saya bangga karena bisa menginjakkan kaki sebagai pengisi acara.

Rasa bangga meningkat ketika Daeng Khrisna memperkenalkan saya dan dua teman lainnya sekaligus menceritakan awal pertemuan kami untuk berkolaborasi di satu panggung. Semakin meningkat pula rasa bangga ketika salah satu rekan volunteer memberikan pujian “saya tidak menyangka akan ada mahasiswa kedokteran yang pandai membaca puisi seperti kamu”. Meningkat pula rasa bangga lainnya ketika teman-teman yang sengaja datang hanya untuk melihat penampilan saya memuji hasil tampilan saya di atas panggung MIWF.

Namun, dibalik rasa bangga tersebut, saya selalu bersyukur atas takdir Tuhan yang membawa saya hingga di titik mimpi dadakan saya terwujud. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya bisa menjadi pengisi acara di kegiatan tersebut yang sebelumnya saya hanya berniat sekedar menjadi volunteer, yang setahun lalu saya hanya menjadi penonton.

Bagaimana jika saat itu saya tidak tertarik dengan informasi dari sahabat saya tentang pendaftaran MIWF?
Bagaimana jika saya tidak menjadi peserta Kelas Menulis?
Bagaimana jika saya tidak menghadiri kegiatan Malam Puisi?
Bagaimana jika saat itu saya lebih memilih godaan kasur untuk mengistirahatkan tubuh saya dibandingkan mengikuti firasat baik saya?
Bagaimana jika saya tidak terjebak menyanyikan lagu ‘Cindai’?
Bagaimana jika saya tidak menceritakan mimpi saya kepada kak Na’?
Bagaimana jika saya tidak merasa tertantang dengan kalimat Om Lebug?
Bagaimana jika saya memilih mundur karena merasa tidak mampu?
Bagaimana jika tidak ada penyemangat-penyemangat lainnya?
Dan yang terpenting, mari kembali ke kalimat pertama dari tulisan saya ini, bagaimana jika saya tidak menerima peluang dari yang ditawarkan kehidupan kala itu?
Mungkin saya tidak akan menceritakan semua nya ditulisan saya sekarang. Mungkin hingga detik ini saya hanya menjadi penonton tanpa bermain di panggung. Percayalah, takdir tuhan memang selalu indah. Ya, pada waktunya.

Notes : Terimakasih tak terhingga untuk orang-orang yang terlibat di cerita ini, baik disebutkan maupun tidak. Saya sayang kalian! 🙂

Iklan