22 Desember 2015

Halo Mama, apa kabarmu di pulau seberang sana? Kakak sudah menampung rindu yang berlebih.  Mama juga pasti tahu itu. Iya, kan? Kakak rindu dengan cara Mama memanggil Kakak dengan sebutan seperti yang sekarang Kakak gunakan. Iya, ‘Kakak’. Sesekali Mama juga memanggil Kakak hanya dengan sebutan ‘Nurul’ ditambah penekanan nada. Itupun hanya ketika Mama sedikit kesal dengan Kakak. Iya, kan? Hahaha.

   

Ma, tahu tidak? Terkadang Kakak senyum-senyum sendiri, bahkan nangis tiba-tiba kalau Kakak mencoba untuk menyusun kembali satu persatu memori ingatan Kakak. Apa yang terjadi dan apa yang Kakak lakukan bersama Mama dari dulu hingga sekarang. Sekarang Kakak coba menyusun satu persatu ya, Ma.

    

Kakak mencoba mengingat apa yang terjadi saat Kakak berumur 4 tahun, Ma. Saat Mama mulai membiarkan Kakak berinteraksi dengan manusia seumuran Kakak. Tepatnya di Taman Kanak-Kanak yang menjadi tempat sekolah formal pertama Kakak. 

Ada memori yang paling Kakak ingat saat itu. Kakak melihat raut wajah Mama yang sedih, khawatir, sekaligus marah ketika sepulang dari sekolah, telinga Kakak meneteskan darah yang sangat banyak karena ulah teman sekelas Kakak yang sepertinya hanya iseng belaka menggunting daun telinga Kakak. Ah, entahlah itu layak disebut iseng atau apa. Mama tahu? Saat itu Kakak nangis tidak hanya karena sakit, tapi karena Mama juga sedih dan panik.

Oh iya, Ma. Ada satu lagi yang Kakak ingat. Dulu saat Kakak merengek meminta untuk menggunakan seragam merah putih siswa Sekolah Dasar, Mama dengan berbagai cara mencarikan sekolah yang mau menerima anak berusia satu tahun lebih muda daripada usia anak 1 SD yang sesungguhnya. Susah ya, Ma? Maaf ya, Ma. Kakak umur 5 tahun waktu itu sudah tidak sabar mau seperti kakak sepupu yang lain. Terimakasih sudah menjadikan Kakak layaknya anak yang pernah ikut kelas akselerasi, Ma! Hihi.

  

Kakak kagum dengan sosok Mama yang kuat, meskipun agak sedikit manja. Wajar, Ma. Wanita memang pada dasarnya memiliki sifat manja. Sekuat apapun dia.

Sosok kuat Mama terlihat dibeberapa moment. Kakak sangat ingat dulu Mama pernah memaksakan diri menjemput Kakak di sekolah, padahal Kakak tahu Mama sedang demam tinggi. Saat itu memang sudah larut malam dan Kakak masih di sekolah. Bingung tidak ada yang menjemput. Ternyata karena sedikit kesalahan komunikasi Mama dan orang yang diamanahkan untuk menjemput, Mama yang saat itu meskipun sakit, memaksakan diri bangun untuk menjemput Kakak.

Terlihat pula sosok kuat Mama saat Ayah beranjak duluan ke pulau Jawa, meninggalkan Kakak, Mama, dan Adik untuk sementara di Makassar karena melanjutkan pekerjaan Ayah di sana. Waktu itu sepertinya Ayah dan Mama berembuk untuk mengambil keputusan seperti itu, menunggu Kakak dan Adik menyelesaikan sekolah yang sangat tanggung untuk ditinggalkan. Saat itu Kakak kelas 5 SD dan Adik kelas 2 SD kan, Ma?

Saat itu Kakak melihat Mama berusaha bagaimana caranya agar Kakak dan Adik bisa pergi sekolah dan pulang sekolah dengan aman, bagaimana Kakak pergi dan pulang kursus yang sangat banyak itu secara tepat waktu dan aman. Sampai Mama sempat terjatuh dari motor saat hujan deras hanya untuk menjemput Kakak di sekolah. Kakak ingat itu, Ma. Mama hebat bisa melewati masa-masa itu sampai akhirnya kita semua bisa menyusul Ayah ke pulau Jawa.

  

Ma, sepertinya memori masa kecil Kakak yang melekat dipikiran masih sangat banyak, tapi terlalu panjang kalau Kakak sebut satu persatu di surat ini, Ma. Jadi, Kakak melompat saja ke susunan memori saat Kakak sudah mulai beranjak dewasa. Bagaimana?

Teringat saat dulu Mama dan Ayah sepakat mendaftarkan Kakak ke sebuah Sekolah Menengah Atas pesantren saat Kakak berusia 14 tahun menuju 15 tahun. Saat itu, Mama tidak pernah bosan mengingatkan Kakak belajar siang dan malam. Bahkan Kakak ingat, Ma. Sesekali Mama memarahi Kakak yang malasnya sedang kambuh. “Nuruuuul. Masya Allaaaah. Belajar!”. Begitu kan ya, Ma, kalau Mama marah? Hihi.

Saat dinyatakan lulus pesantren, komunikasi kita pun dibatasi di asrama. Hanya hari Selasa dan Jumat saja Kakak boleh berkomunikasi dengan dunia luar melalui telepon. Tiba saat hari Selasa dan nomor yang pertama Kakak hubungi itu tentu saja nomor Ayah dan Mama. Saat menelpon, Ayah bercerita kalau Mama menangis sepanjang malam karena Kakak masuk asrama. Kakak cuma bisa ketawa dan lagi sambil menangis, Ma. Entah karena rindu atau terharu.

Setelah Kakak lulus dari SMA, Mama dan Ayah membebaskan Kakak untuk memilih jurusan dan universitas yang Kakak mau. Saat itu Kakak memilih Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin sebagai target tempat Kakak menimba ilmu selanjutnya. 

Kakak berhasil lulus tes di kampus terbaik di Sulawesi itu. Artinya, Kakak harus kembali berdomisili di Makassar. Lagi-lagi kejadian saat Kakak di pesantren terulang kembali. Mama menangis lagi dengan pergi nya Kakak untuk merantau ke tanah kelahiran sendiri. So do I, Ma. Kakak menangis sekencang mungkin, bahkan Kakak ingat Kakak sampai jatuh sakit di tahun pertama Kakak di Makassar.

Setelah tahun pertama terlewati, Kakak mulai bisa beradaptasi jauh dari Mama dan Ayah. Handphone pun menjadi sarana Kakak menuntaskan  rindu. Sampai pada akhirnya Mama menceritakan sesuatu yang tidak biasa pada Kakak.

“Kak, senang nggak kalau Kakak punya adik lagi?”

Itu kalimat yang sangat Kakak ingat sekitar 2 tahun lalu. 

“Mama hamil lagi loh, Kak”

Tahu tidak, Ma? Kaget sekaget-kagetnya Kakak dengar seorang ibu umur 44 tahun bilang begitu. Kaget yang membuat Kakak lompat kegirangan.

9 bulan Mama jalan dengan perut berisi manusia kecil. Terkadang Kakak takut dengan segala gerak Mama, bahkan melangkah 1 kali saja. 

Kakak ingat dulu saat bulan puasa tahun 2013 dan Mama sedang hamil besar, Kakak niat menemani Mama belanja untuk keperluan lebaran dengan harapan Kakak yang akan menjaga Mama. Tapi ternyata sebaliknya, Mama yang menjaga Kakak. Kakak mengeluh duluan daripada Mama. Ah, Mama memang jagoan kok!

 

Ohiya, Ma. Sepertinya Mama belum pernah dengar cerita ini. Tahu, tidak? Dulu waktu Kakak dengar kabar Mama sudah memasuki kamar operasi untuk kegiatan sectio sesarica atau yang biasa orang sebut operasi sesar, Kakak bingung harus bagaimana selain berdoa agar nyawa Mama dan adik selamat. Kakak sembunyi di bawah selimut sambil menangis sampai kabar operasi sesarnya berhasil, Ma. Kakak takut akan banyak hal. Tidak usah Kakak jelaskan, Mama pasti mengerti kan? 

Ma, surat ini tidak akan berhenti kalau Kakak ingin menceritakan semua tentang Mama. Mama yang sangat kooperatif jika diajak cerita tentang apapun, Mama dengan sifat manja dan sensitifnya yang membuat rindu, Mama yang sangat kuat, dan Mama yang sangat hobi jalan-jalan. Hehe.

Terimakasih sudah melakukan yang terbaik untuk Kakak. Maaf, Kakak belum bisa membalas jasa Mama satu persatu. Terlalu banyak, Ma. Tidak sebanding dengan apa yang bisa Kakak lakukan. Sampai detik ini yang Kakak bisa persembahkan cuma gelar sarjana Kakak yang sempat membuat Mama menangis terharu menyaksikan Kakak disumpah sarjana kedokteran. Tapi menurut Kakak itu tidak ada artinya sama sekali, Ma.

Ma, hari ini Kakak wisuda. Kembali menggunakan toga hanya untuk seremonial gelar. Kakak tahu Mama tidak bisa hadir kembali karena sesuatu dan lain hal. Tapi tidak apa-apa, Ma. Setidaknya cuma ini yang bisa Kakak persembahkan ke Mama sampai detik ini. 

Sekalian ya, Ma. Hari ini, 22 Desember 2015, merupakan hari ibu yang ke sekian kalinya seumur hidup Kakak. Kakak mau mengucapkan terimakasih setinggi-tingginya untuk Mama yang sudah setia mengurusi hidupku dari A sampai Z. Mama yang kuat, Mama yang gaul, Mama yang baik hati. Selamat hari ibu, Ma. Semoga Mama diberikan umur yang panjang sampai kelak Mama bisa melihat Kakak mengucapkan sumpah dokter atau bahkan sempat memeluk turunan Kakak kelak. Selamat hari ibu, Ma.