Cerita dibalik UGD

image
photo by : google.com

Hari ini saya sedang duduk di antara forum yang lumayan lama sejak saya memilih untuk meninggalkannya. Mendengarkan hal-hal yang kurang saya mengerti membuat saya bosan dan akhirnya memilih untuk menceritakan salahsatu pengalaman berharga melalui tulisan ini.

18 November 2015, sekitar sebulan lebih 6 hari semenjak pengalaman baru memasuki kehidupan menjadi seorang dokter muda. Berinteraksi langsung dengan pasien yang tidak berpura pura menjadi orang sakit. Iya, ‘pasien pura-pura’, layaknya orang sewaan kampus di setiap ujian praktikum saat tingkat pre-klinik.

Melihat dan menyentuh langsung para pasien, mendengarkan segala keluhan mereka hingga cerita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit yang mereka derita, memberikan penjelasan tentang penyakit mereka dengan segala pilihan kalimat yang sebisa mungkin bisa membuat mereka mengerti tapi tidak seketika kaget dan panik, dan tindakan-tindakan lainnya yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan saya lakukan saat itu. Mengaplikasikan teori yang diperoleh ditingkat pre-klinik menjadi salahsatu kepuasan tersendiri di dunia yang kami sebut ‘per-coass-an’.

Sebulan sebelum menjajaki pengalaman klinik, saya bersama beberapa teman berembuk untuk memilih salahsatu dari enam bagian yang akan menjadi bagian pertama kami di rumah sakit. Neurologi menjadi pilihan yang kami rasa tepat dengan berbagai pertimbangan alasan, terutama untuk melatih fisik dalam menghadapi bagian-bagian selanjutnya. Bermodalkan doa sendiri dan doa orangtua, saya berani meng-klik ‘OK’ dipilihan ‘Neurologi’.

Neurologi merupakan bagian yang berhubungan dengan segala sistem saraf, termasuk otak. Jadi, jangan heran kebanyakan pasien yang masuk adalah pasien-pasien strok. Karena penyakit ini menyerang sistem saraf pusat, yaitu otak. Selain itu, pasien dengan gejala pusing entah itu berputar atau tertusuk tusuk, pasien dengan nyeri pada punggung, dan lain lain pun menjadi pasien yang saya jadikan bahan belajar. Terimakasih setinggi-tingginya untuk semua pasien itu.

Bukan penyakit-penyakit itu yang ingin saya bahas di tulisan ini. Tapi, coba bayangkan bagaimana rasanya melihat bahkan menyentuh, lebih lagi memeriksa pasien dengan kesadaran menurun. Bisa kalian sebut dengan koma, bisa juga kalian sebut dengan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.
Begini ceritanya…
Unit Gawat Darurat (UGD) Non-Bedah salah satu rumah sakit di kota Makassar, ruangan dengan luas yang bisa menampung sekitar 12 pasien, ruangan yang menampung pasien berbeda setiap harinya, ruangan yang menjadi tempat transit pasien sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap, menjadi tempat tugas saya selama seminggu pertama di per-coass-an.

UGD dengan tenaga ahli yang seharusnya memiliki keahlian yang lincah dan tangkas sekaligus tepat. Bandingkan dengan orang yang baru pertama kali menyentuh segala apapun tentang rumah sakit. Sungguh, saat itu saya sangat bingung harus bagaimana. Wajar saja, dokter residen (dokter yang sedang dalam masa sekolah pengambilan title spesialis) yang menjadi partner saya selama seminggu sempat naik darah menghadapi saya. Untungnya saya cepat beradaptasi dengan keadaan UGD.

Jelas teringat, hari ketiga saya di UGD, sebelum pergantian jadwal jaga siang ke malam, sekitar pukul 4 sore sebelum saya berpindah menuju bangsal, pasien laki-laki dengan kesadaran menurun masuk ke ruang UGD. Saya hanya melihat sekilas saja dan sungguh itu pertama kalinya saya melihat pasien dengan kondisi seperti itu. Dokter juga manusia biasa. Jadi, wajar saja saya memiliki perasaan takut ketika melihat pasien itu. Jangan tanya kenapa saya takut, sayapun tidak bisa menjelaskannya.

Pukul 9 malam, saat waktu pergantian jaga kembali, saya kembali berjalan dari bangsal menuju UGD untuk bertugas hingga pukul 7 pagi. Saya tak menyangka setiba di UGD, teman yang bertugas di UGD sebelum saya memberitahu bahwa pasien yang saya lihat sebelum ke bangsal itu masih bertahan di UGD. Itu artinya, saya memiliki tugas untuk memeriksa pasien tersebut sesering mungkin hanya untuk memastikan dia masih bernyawa atau tidak. Sekali lagi, ini pengalaman pertama saya untuk menghadapi pasien yang hanya bermodalkan detak jantung dan bantuan napas untuk bertahan saat itu.

Setiap jam nya, saya menghampiri pasien itu untuk memeriksa tanda vitalnya, mulai dari tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu. Setiap waktu tersebut juga istri dari pasien tersebut selalu melontarkan pertanyaan yang sama : “masih hidup ji suami ku, dok?”. Pertanyaan singkat yang membuat saya bingung untuk menjelaskan mulai dari mana. Bingung memilih kalimat yang tepat. Untung saja saat itu dokter residen saya masih bisa menemani dan mengarahkan saya dalam menghadapi pasien tersebut.

Pukul 12 malam, tiba saat semua orang mengalami kesadaran menurun tingkat terendah, yaitu mengantuk. Sebagai manusia normal, saya pun mengalaminya. Tapi, rasa was-was saya lebih tinggi daripada kantuk itu. Bagaimana tidak? Dokter residen saya izin untuk meninggalkan ruang UGD dan saya pun menjadi tenaga medis pendidikan dokter satu-satunya dari neurologi yang menjaga pasien koma tersebut. Suasana UGD tetap ramai dengan pasien-pasien dari bagian lain, seperti penyakit dalam dan jantung. Tapi, saya tetap merasa was-was.

Pukul 3 malam, saat saya merasa kesadaran saya tersisa 40% lagi, saat itu juga kesadaran saya dinaikkan seketika dengan tangisan istri pasien koma tersebut. Akhirnya, banyak perkiraan yang ada di dalam pikiran saya jika saja pasien ini meninggal. Mungkin si istri pasien masih belum siap menjadi janda, mungkin si istri pasien belum siap membimbing dan merawat anak-anaknya yang sepengelihatan saya saat itu mereka memiliki 2 anak masing-masing laki-laki dan perempuan yang berumur sekitar 10 tahun dan 5 tahun, mungkin si istri syok dengan kepergian suaminya dengan cara seperti ini. Entahlah. Yang jelas, saat itu kantuk saya seketika hilang.

Pukul 6 pagi, sebelum saya izin pada dokter residen untuk meninggalkan ruang UGD hanya untuk sekedar bersiap-siap kembali melanjutkan tugas di ruang yang sama dari pukul 7 pagi hinggal pukul 4 sore, saya menyempatkan diri untuk memeriksa kembali tanda vital pasien koma tersebut.

Tekanan darah sudah tidak bisa terdengar dengan stetoskop, nadi sudah sangat lemah, pernapasan tetap dengan bantuan alat, suhu pun sudah hampir dibawah normal. Saya panik. Asli sangat panik. Melapor ke residen menjadi salahsatunya tugas saya ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada pasien tersebut.

Si istri pasien masih dengan pertanyaan yang sama, namun kali ini saya menjawab nya dengan jawaban yang berbeda dari biasanya. Saya memberanikan diri untuk menjelaskan keadaan suaminya saat itu. “Bu, keadaan bapak sudah sangat lemah. Tekanan darah serta nadi sudah sangat lemah. Tolong doakan bapak bisa mendapatkan yang terbaik. Nyawa tetap ada di tangan Tuhan”, kalimat tersebut seketika meluncur bebas dari mulut saya disertai wajah yang sedikit memelas. Si istri hanya bisa membalas dengan tangisan.

Setelah rapih, saya kembali ke UGD untuk melanjutkan tugas hingga pukul 4 sore. Belum sempat duduk dan menyapa dokter residen saya, si istri teriak kesetanan meminta bantuan kepada kami. “DOKTER, TOLONG! ITU KENAPA DATAR?”, sambil menunjuk layar yang biasa digunakan untuk melihat detak jantung dan saturasi oksigen pasien. Betul, datar. Saya dan dokter residen saya menghampiri pasien tersebut.

Dokter residen memeriksa dari ujung kepala hingga ujung kaki, serta memeriksa kembali tanda-tanda vital. Setelah itu, dokter residen mengkode saya dan saya menangkapnya sebagai kode bahwa “Ul, pasiennya sudah meninggal”. Kami semua menggeleng dan menunduk. Si istri pasien berteriak histeris sambil mengulang-ulang kalimat “Bapak, kenapa ki ?”. Saya tidak kuat menahan sedih dan akhirnya saya meninggalkan jenazah tersebut dan menangis di belakang. Wajar kan? Saya kan manusia.

Akhirnya keranda berwarna hijau sampai juga di ruang UGD untuk menjemput jenazah tersebut. Sambil memperhatikan dari jauh, saya berdoa semoga arwah bapak itu diterima disisi Tuhan.

Akhirnya, setelah melewati hari itu, saya sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, terbiasa menghadapi pasien dengan keadaan seperti itu, menjelaskan kepada keluarga pasien keadaan pasien dengan kondisi umum pasien yang buruk, melepaskan kepergian pasien dan melihat keranda hijau itu tiba untuk menjemput jenazah.

Terimakasih, ruang UGD. Terimakasih telah menampung pasien yang bisa saya jadikan bahan belajar saya, baik untuk berinteraksi maupun berklinisi. Terimakasih juga sudah menyediakan keadaan yang membuat saya menelpon orangtua saya setiap harinya. Terimakasih.