RENUNGAN 1/2 1436H

“Kak, lebaran tahun ini di Soppeng dulu ya. Gak usah balik ke rumah. Gak apa-apa kan?”, kira-kira begitulah pernyataan dan pertanyaan singkat dari mulut ibu saya yang sontak membuat sedih kurang dari 1 detik. Saat itu saya benar-benar bimbang mau menjawab apa. Untuk menjawab “iya, gak apa-apa” sungguh terdengar dusta, karena sungguh saya rindu rumah dan penghuninya. Tapi, untuk membantah dan tetap merengek pulang saya pikir tindakan bodoh untuk gadis seusia saya, akan terlihat childish pastinya.

Karena berbagai alasan yang masuk akal dari orang tua, akhirnya saya meng-iya-kan permintaan mereka. Pun saya juga tidak ingin menjadi anak durhaka di mata mereka dan Tuhan.

Akhirnya, pengalaman Ramadhan tidak bersama orangtua untuk pertama kalinya dimulai. Masa menjadi anak rantau pun diperpanjang. Tapi, saya merasa beruntung bisa menjadi anak rantau yang bergabung di berbagai komunitas maupun organisasi. Beruntung juga saya pernah menghabiskan masa kecil di Makassar. Lebih beruntung lagi karena kebanyakan keluarga-baik dari ayah maupun ibu saya-berdomisili di Makassar. Jadi, saya tidak merasa sepi setiap harinya.

Ramadhan tahun ini dimulai pada tanggal 18 Juni 2015. Mulai saat itu sampai di setengah perjalanan Ramadhan kali ini, agenda saya di setiap harinya selalu saja terisi dengan ajakan buka puasa bersama. Tentunya ini adalah hal-hal yang membuat saya merasa beruntung, seperti yang sudah saya jelaskan di paragraf sebelumnya.

“Hari ke berapa mi ini puasa? Bisa cepat-cepat saja lebaran?”, kadang saya merasa risih mendengar orang-orang yang melontarkan kalimat tersebut. Masih ada saja orang yang ingin meninggalkan bulan suci yang jelas-jelas selalu dirindukan kedatangannya karena segala bentuk amalan menjadi dua kali lipat pahalanya. Dan yang paling saya suka dari bagian Ramadhan adalah tali silaturahmi yang ajaib seketika sangat kuat antar satu dengan yang lainnya, mulai dari yang saling mengenal hingga tidak mengenal sama sekali. Buka puasa bersama menjadi salah satu media silaturahminya.

Baru kali ini saya merasa harus benar-benar mengatur jadwal ajakan buka puasa bersama atau biasa disebut dengan istilah bukber di kalangan anak muda zaman sekarang. Bukannya sok sibuk, tapi entah kenapa saya selalu merasa sedih ketika saya melewatkan satu momen. Itu menjadi alasan saya mengatur jadwal bukber sebaik mungkin agar semua ajakan bisa saya ikuti. Meskipun hanya harus menampakkan muka saja di salah satu ajakan bukber demi mendatangi ajakan bukber lainnya yang lebih prioritas.

Ajakan bukber mulai dari teman komunitas, kampus, hingga teman semasa duduk di bangku sekolah dasar pun berdatangan. Selain itu, karena kebetulan Ramadhan kali ini bertepatan dengan jadwal wisuda rutin yang diadakan universitas saya, kerap kali juga undangan syukuran yang dibarengi dengan bukber berdatangan. Saya memang orang yang sangat sulit menolak ajakan apalagi rejeki, maka sekali lagi saya akan sedih untuk melewatkan momen meski hanya satu. Sebisa mungkin saya akan menghadirinya.

Beruntung, Ramadhan memang membuat saya merasa beruntung dan tentunya bersyukur. Beruntung bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang bahkan sangat jarang untuk sekadar menyapa di hari-hari biasanya. Bersyukur karena bisa merasakan kenikmatan dan kekuatan silaturahmi di bulan Ramadhan kali ini. Beruntung saya tidak pulang ke rumah, bersyukur saya masih diberikan kejernihan berpikir dan bertindak untuk menjadi anak yang patuh pada orangtua.

Namun satu kesedihan saya : Mengapa Ramadhan hanya 30 hari? Bisakah engkau menambahnya 1 hari saja, Tuhan? Agar saya bisa lebih lama sehari saja menjalin silaturahmi lebih erat lagi dengan orang-orang di sekitar saya. Agar kekuatan Ramadhan masih bisa saya rasakan lebih lama. Agar saya bisa menjalankan hari demi hari dengan baik setelah Ramadhan meninggalkan saya. Karena sesungguhnya saya percaya pada sebuah hadits (HR. at-Tarmidzi : 3545) yang berbunyi “… Dan celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan, kemudian melewatinya sebelum dosa-dosanya diampuni”.

Semoga silaturahmi menjadi bagian penghapus dosa. Ramadhan memang ajaib. Ramadhan 1436 yang menyenangkan.

 

Iklan